Lionel Messi masih menjadi salah satu pemain paling mematikan di Piala Dunia 2026 meski usianya sudah 39 tahun dan posturnya hanya 1,70 meter.

Kapten Argentina itu memimpin daftar top skor sementara dengan tujuh gol, sejajar dengan Kylian Mbappé.

>>> iQOO Z11 Lite Diumumkan Segera di India, Bawa Baterai Lebih Besar

Apa rahasia Messi tetap dominan di level tertinggi? Jawabannya bukan pada kekuatan fisik, melainkan kemampuan membaca permainan sebelum bola berada di kakinya.

Kecerdasan Membaca Permainan

Profesor Ilmu Gerak Manusia di Australian Catholic University, Gert-Jan Pepping, menjelaskan bahwa banyak orang menganggap pesepakbola hebat harus memiliki kecepatan, kekuatan, atau postur ideal.

Namun, Messi membuktikan bahwa kecerdasan membaca permainan jauh lebih menentukan.

Pandangan itu sejalan dengan filosofi legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff. "Apa itu kecepatan?

Banyak orang mengira kecepatan hanya soal berlari.

Padahal jika saya mulai berlari sedikit lebih dulu daripada orang lain, saya akan terlihat lebih cepat," kata Cruyff.

Para peneliti menilai Messi hampir tidak pernah berhenti menggerakkan kepalanya sebelum menerima umpan.

Ia terus menoleh ke kiri dan kanan untuk mengamati posisi lawan, rekan setim, serta ruang kosong.

Kebiasaan itu dikenal sebagai visual exploration atau scanning, yaitu proses mengumpulkan informasi sebelum bola datang.

Dengan begitu, ketika bola tiba, Messi sudah tahu ke mana harus bergerak atau mengoper tanpa perlu berpikir lama.

>>> Nothing Ear (3a) Resmi: LDAC, ANC 45dB, dan Rekaman Panggilan Bawaan

Tim peneliti memasang sensor gerak di belakang kepala para pemain, dari akademi hingga profesional, untuk mengukur frekuensi scanning.

Hasilnya, pemain yang lebih sering scanning mampu mengambil keputusan lebih cepat, lebih berani membawa bola ke depan, dan lebih sering menciptakan umpan berbahaya.