Penelitian yang terbit di The Conversation itu menjelaskan dua tahap scanning. Tahap pertama adalah orientation, yaitu mengamati seluruh situasi di lapangan untuk mengetahui pilihan dan potensi ancaman.

Tahap kedua adalah specification, yaitu pengamatan lebih spesifik sesaat sebelum melakukan operan atau mengambil keputusan. Tahap orientasi justru paling sering diabaikan karena terjadi saat pemain tidak menguasai bola.

Padahal, fase itulah yang menjadi dasar pengambilan keputusan saat bola datang. Karena itu, Messi dinilai mengalahkan lawan dengan waktu, bukan fisik.

Ia melihat situasi lebih cepat sehingga tidak perlu beradu kecepatan.

Penelitian juga menegaskan bahwa scanning bukan bakat alami semata, melainkan keterampilan yang bisa dilatih sejak usia dini.

Kemampuan mengamati situasi sebelum menerima bola menjadi salah satu faktor yang membedakan pemain hebat dengan pemain biasa.

Bagi para peneliti, dominasi Messi di usia yang tak lagi muda membuktikan bahwa kehebatan tidak selalu berasal dari tubuh yang lebih kuat atau lebih cepat.

>>> Belajar dari Nuanu: Kawasan Wisata Kurangi Sampah Sejak dari Sumber

"Kehebatan tidak pernah tersembunyi pada tubuh. Kehebatan selalu ada pada cara seorang pemain melihat permainan," tulis peneliti.