I Gede Nyoman Agastya Yatra pernah menyaksikan ternak memakan rumput bercampur sampah di TPA. Pengalaman itu menguatkan keyakinannya bahwa sampah harus diminimalisir sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir.

Keyakinan itu ia bawa saat bergabung dengan Nuanu Creative City, kawasan kota kreatif seluas 44 hektare di pesisir Pantai Nyanyi, Tabanan, Bali.

>>> 5 Micellar Water Lokal Ukuran Besar yang Murah, Awet Berbulan-bulan

Sejak awal, kawasan ini memilih membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya.

Pendekatan ini relevan di tengah persoalan sampah Bali yang terus membesar. Data SIPSN menunjukkan timbulan sampah di Bali mencapai sekitar 3.440 ton per hari pada 2024.

Sebagian besar sampah masih berakhir di TPA, sementara pariwisata terus menghasilkan limbah dari hotel, restoran, dan destinasi wisata.

Pemerintah Provinsi Bali menargetkan praktik open dumping dihentikan mulai 1 Agustus 2026.

>>> 5 Alasan Mengapa Sepatu Jalan Kaki Tidak Cocok Dipakai Lari, Dampaknya Bisa Fatal

Mengelola sampah sejak dari sumbernya

Setiap hari, Nuanu menghasilkan sekitar empat ton sampah. Alih-alih mengirim seluruhnya ke TPA, kawasan ini membangun sistem yang mengelola sampah sejak pertama kali dihasilkan.

Sekitar 30 orang menjadi bagian dari tim pengelolaan sampah. Mereka menangani pengumpulan, pemilahan, pengolahan, pengomposan, hingga memastikan setiap jenis sampah masuk ke jalur pengolahan yang sesuai.

Strategi ini bertujuan mengurangi beban TPA dan membangun kesadaran kolektif seluruh tenant akan tanggung jawab lingkungan.

>>> OJK Minta TAFS Evaluasi Tata Kelola Penagihan Agunan

Nuanu mencoba menjawab tantangan bagaimana kawasan wisata mampu mengurangi sampah yang dikirim ke TPA.