Tagihan listrik yang membengkak mendorong warga Filipina berbondong-bondong memasang panel surya atap. Negara itu kini menjadi pembeli panel surya terbesar di dunia sejak konflik yang melibatkan Iran dimulai.

Menurut laporan Reuters, impor panel surya Filipina mencapai 407 juta dolar AS dalam tiga bulan hingga Mei. Angka itu melonjak 145 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

>>> Pecinta Berkebun Beralih Peran untuk Hindari Repot Memasak Hasil Panen

Distributor listrik utama Meralco menaikkan tarif sekitar 10 persen sejak akhir Februari.

Rumah tangga dengan pemakaian 200 kWh per bulan kini menghabiskan sekitar 12 persen pendapatan bulanan untuk listrik.

Tagihan Listrik Mengubah Perhitungan

Selama bertahun-tahun, panel surya atap dianggap terlalu mahal bagi banyak keluarga Filipina. Kini, kenaikan tarif listrik membuat investasi itu semakin menarik.

Seorang pemasang panel surya di Manila, Philergy German Solar, menerima lebih dari dua setengah kali lipat pertanyaan pelanggan pada lima bulan pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Mitra pengelolanya, Jochen Staudter, mengatakan pelanggan memutuskan "jauh lebih cepat dari sebelumnya."

Filipina sangat rentan terhadap guncangan bahan bakar global karena sangat bergantung pada batu bara dan gas impor. Ketika harga bahan bakar naik, dampaknya langsung terasa di rumah tangga.

Tarif listrik rumah tangga naik menjadi 14,4833 peso Filipina per kWh, atau sekitar 0,24 dolar AS per kWh.

Kenaikan ini dipicu harga pasar spot yang lebih tinggi, biaya bahan bakar, dan pelemahan peso.

Pengembalian Investasi Semakin Cepat

Analis Ember, Alnie Demoral, mengatakan kapasitas surya terdistribusi di Filipina bisa hampir tiga kali lipat dalam dua tahun menjadi 3.500 megawatt.