Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, memaparkan strategi perseroan dalam mendukung target pengembangan pembangkit energi terbarukan berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Tahap awal program tersebut akan dimulai melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 27,4 gigawatt peak (GWp) yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 82,5 gigawatt hour (GWh).

>>> Dedek Prayudi: Dokter Tifa Hadir di Sidang Bukan Berani, Tapi Takut Dijemput Paksa

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Darmawan mengatakan program tersebut menjadi quick win PLN melalui fuel displacement atau substitusi bahan bakar.

"Kami melakukan quick win melalui program fuel displacement.

Dari visi 100 gigawatt Presiden Prabowo, tahap pertama kami menargetkan pembangunan sebesar 27,4 gigawatt peak (GWp) tenaga surya yang dikombinasikan dengan teknologi baterai raksasa berkapasitas 82,5 gigawatt hour (GWh)," ujar Darmawan.

Menurut dia, sistem penyimpanan energi menjadi komponen penting dalam pengembangan PLTS karena produksi listrik dari tenaga surya bergantung pada intensitas sinar matahari.

Melalui BESS, energi yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan untuk kemudian disalurkan kembali saat produksi listrik menurun akibat perubahan cuaca maupun pada malam hari.

Selain menyiapkan infrastruktur pembangkit, PLN juga memetakan penggantian operasional 741 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang saat ini masih mengonsumsi sekitar 8,8 juta kiloliter bahan bakar minyak (BBM) setiap tahun.

Darmawan mengatakan penguatan sistem kelistrikan dilakukan di sejumlah wilayah yang menjadi prioritas. Di Bali, pengembangan difokuskan pada Gardu Induk (GI) Kapal, Kubu, Buleleng, dan Gilimanuk.

Sementara di Madura, penguatan sistem dilakukan di Guluk-Guluk, Sumenep, dan Pamekasan.