PLN juga menghitung pengaruh biaya pengadaan lahan terhadap keekonomian proyek energi terbarukan.

>>> Redmi 17 5G Terungkap: Baterai 7.500mAh, Pengisian 45W, dan RAM 8GB

Berdasarkan simulasi perseroan, setiap kenaikan harga lahan sebesar Rp200.000 per meter persegi akan meningkatkan biaya pokok penyediaan listrik sekitar 1 sen per kilowatt hour (kWh).

"Jika harga lahan mencapai Rp600.000 per meter, maka harga listrik otomatis naik 3 sen per kWh. Hal ini bisa membebani masyarakat," kata Darmawan.

Untuk menekan biaya investasi, PLN mengoptimalkan pemanfaatan lahan melalui skema penugasan pemerintah.

Salah satunya berasal dari usulan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) seluas 28.000 hektare.

Dari total luasan tersebut, sekitar 8.500 hektare telah divalidasi memiliki kesesuaian dengan jaringan transmisi dan gardu induk, dengan potensi pengembangan mencapai 8,5 GWp.

Selain itu, PLN memetakan potensi pembangunan PLTS terapung di area waduk seluas sekitar 10.000 hektare dengan kapasitas hingga 10,3 GWp.

Perseroan juga menjajaki pemanfaatan koridor jalan tol sepanjang 802 kilometer milik Jasa Marga.

Dengan memanfaatkan lahan selebar 3–5 meter di kedua sisi jalan, tersedia potensi sekitar 500 hektare yang diperkirakan mampu menghasilkan kapasitas pembangkit sebesar 0,5 GWp.

"Dengan dukungan lahan dari pemerintah, program PLTS dan baterai raksasa ini menjadi sangat kompetitif secara ekonomi.

>>> Anthropic Gandeng Samsung Kembangkan Chip Kustom AI

Inilah cara konkret PLN menurunkan biaya pokok produksi listrik sekaligus mewujudkan kedaulatan energi nasional," tutup Darmawan.