Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya mengakui bahwa negaranya, yang merupakan produsen minyak dunia, menghadapi ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat perang di Ukraina.

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan Kremlin pada Senin (29/6), Putin menyebut Rusia kekurangan BBM tertentu setelah serangan Ukraina belakangan ini menyasar infrastruktur energi.

>>> Jerman Tersingkir, Rekor Adu Penalti di Piala Dunia Berakhir

"Terkait serangan terhadap infrastruktur kritis secara umum, dan infrastruktur energi secara khusus, tentu saja serangan terhadap fasilitas infrastruktur kami menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin.

"Saat ini kami memang melihat adanya kekurangan tertentu, tetapi tidak dalam kondisi kritis," imbuhnya.

Putin menegaskan tugas utama saat ini adalah meningkatkan kapasitas pertahanan udara Rusia dan memastikan ketersediaan pasokan BBM, terutama ke wilayah Krimea.

Status Darurat di Crimea

Jumat lalu, otoritas Crimea menetapkan status darurat akibat kelangkaan BBM dan pemadaman listrik yang dipicu serangan Ukraina terhadap rantai logistik dan fasilitas minyak di wilayah tersebut.

Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada 2014, langkah yang tidak diakui sebagian besar negara di dunia.

Dalam pidatonya di kongres partai berkuasa United Russia, Putin berjanji akan menjamin keamanan dan mengatasi berbagai tantangan seiring meningkatnya serangan balasan Ukraina.

"Ya, kami melihat masalah tersebut, kami menyadarinya dan sedang meresponsnya. Namun kami tentu akan menjamin keamanan negara dan warga kami, serta menjaga keutuhan perbatasan Rusia," kata Putin.

"Kami tanpa ragu akan mengatasi semua tantangan yang kami hadapi saat ini, termasuk serangan teroris terhadap wilayah dan fasilitas infrastruktur kami," tambahnya.

>>> Partai Buruh di Indonesia Minim Kesadaran Kelas, Dikooptasi Oligarki