Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengejek militer Rusia pada Senin, 29 Juni 2026, dengan menyebutkan bahwa Moskow telah menunda 15 tenggat waktu berbeda untuk menguasai wilayah Donbas timur selama empat tahun terakhir.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menolak proposal Ukraina untuk menghentikan serangan jarak jauh dan mengurangi pertempuran di garis depan.

>>> LPDP Pastikan Dana Beasiswa Aman, Tak Terdampak Efisiensi Anggaran

Zelenskyy menilai pemimpin Rusia tidak terhubung dengan realitas yang dihadapi warga yang mengalami kelangkaan bahan bakar domestik.

"Bahkan negara penghasil minyak – yang sering disebut 'pom bensin' – kini menghadapi kelangkaan bahan bakar," ujar Zelenskyy.

Presiden Ukraina menghubungkan defisit bahan bakar itu langsung dengan serangan yang ditargetkan ke fasilitas minyak Rusia. Ia menekankan bahwa operasi tersebut dilakukan dengan presisi tinggi, bukan aksi sembarangan.

"Ini adalah konsekuensi langsung dari perang; salah satu dari banyak konsekuensi. Ini juga contoh bagaimana Ukraina merespons – dengan presisi, bukan melalui terorisme," kata Zelenskyy.

Fokus strategis Kremlin masih tertuju pada wilayah timur. Zelenskyy mencatat bahwa penundaan terus-menerus dalam mencapai target militer menunjukkan perlawanan yang dihadapi pasukan Rusia.

>>> Cara Cek 5 Wilayah yang Sudah Cairkan Bansos PKH dan BPNT 2026

"Kepemimpinan politik Rusia tetap terobsesi dengan Donbas," ujar Zelenskyy.

Pemimpin Ukraina itu menegaskan bahwa Kremlin akan terpaksa mengubah tenggat waktunya lagi jika konflik tidak berakhir.

Hal ini disampaikan setelah Putin kembali menegaskan niat Rusia untuk menguasai Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson.

"Jika Rusia tidak mengakhiri perang, mereka harus menunda tenggat waktu itu sekali lagi," kata Zelenskyy.

Sementara itu, serangan militer Rusia menyebabkan korban jiwa di beberapa wilayah Ukraina pada hari yang sama.

>>> Amazon Batal Rilis Film Biopik Sam Altman, Diduga Hindari Perkara dengan OpenAI

Serangan rudal di Dnipro menewaskan enam orang dan melukai 29 lainnya, serangan drone di Zaporizhzhia menewaskan tiga orang dan melukai delapan, serta bom luncur di Kharkiv menewaskan seorang wanita dan melukai 10 orang.