Large Hadron Collider (LHC) resmi berhenti beroperasi pada 27 Juni 2026. Penghentian ini menandai dimulainya Long Shutdown 3 (LS3), program pemeliharaan dan rekayasa multi-tahun yang diarahkan oleh CERN.

LS3 berlangsung selama 47 bulan dan merupakan intervensi paling ekstensif pada kompleks akselerator sejak pembangunan awalnya. Tujuan utamanya adalah mentransisikan sistem menjadi High-Luminosity LHC (HL-LHC) pada tahun 2030.

>>> Cara Daftar Beasiswa Fast Retailing Foundation 2026, Cocok Bagi yang Ingin Kuliah di Jepang!

Upgrade ini akan meningkatkan laju tumbukan proton-proton hingga 10 kali lipat.

Saat ini LHC menghasilkan 2,4 miliar interaksi per detik, dan setelah upgrade akan menghasilkan kumpulan data yang jauh lebih besar untuk penelitian subatom.

Komunitas ilmiah global berencana merombak infrastruktur inti selama masa jeda ini.

Fokus utama adalah meningkatkan detektor independen seperti ATLAS dan CMS agar mampu menangani hingga 200 tumbukan simultan per bunch crossing.

Pekerjaan Besar di Depan

Oliver Brüning, Direktur CERN untuk Akselerator dan Teknologi, mengatakan bahwa LHC telah melampaui setiap ekspektasi.

Tim manajemen mengawasi ribuan teknisi dan insinyur di seluruh dunia yang akan membongkar dan membangun kembali komponen kunci.

Sebanyak 1,2 kilometer magnet dan komponen di dalam cincin akselerator akan dilepas dan diganti dengan peralatan baru.

Jean-Philippe Tock, Kepala Tim Koordinasi LS3, menyebut LS3 sebagai upaya logistik dan rekayasa yang sangat besar dan kompleks.

Perubahan yang direncanakan juga mencakup komponen buatan Kanada, termasuk bagian pelacak silikon dalam dan rongga kepiting magnetik yang dirancang untuk memutar berkas proton guna memaksimalkan probabilitas tumbukan.

Peneliti di British Columbia menghadapi jendela operasional yang ketat untuk mengirimkan mekanisme pelacak ultra-sensitif ke fasilitas Swiss sebelum target restart.