Ekonom AS Ungkap Rekomendasi Hapus Subsidi BBM Sejak 1998, Kini Rakyat Protes
Ekonom Amerika Serikat Steve Hanke menyoroti aksi demonstrasi besar di Surabaya yang memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Hanke mengingatkan bahwa sejak 1998, saat ia menjadi penasihat ekonomi Presiden Soeharto, dirinya sudah merekomendasikan agar subsidi BBM dihapus.
>>> Sederet Poin Utama Rancangan Kesepakatan Damai Israel-Lebanon
Menurut profesor ekonomi terapan di Johns Hopkins University itu, jika rekomendasi tersebut dijalankan sejak dulu, subsidi BBM sudah menjadi “sejarah kuno” dan tidak lagi membebani negara.
"#IDNWatch: Setelah kenaikan harga BBM sebesar 30%, protes terhadap Prabowo meluas ke jalanan Surabaya. Sebagai Penasihat Ekonomi Presiden Soeharto, saya merekomendasikan penghapusan subsidi BBM pada tahun 1998.
Jika subsidi dihapus pada 1998, maka subsidi BBM sudah menjadi sejarah kuno," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Minggu (28/6).
Kenaikan Harga BBM Picu Demonstrasi
Sebagai catatan, harga BBM non-subsidi Pertamax mulai 10 Juni 2026 naik sekitar 32%, dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Gelombang demonstrasi besar pun pecah pada Jumat (26/6/2026) di depan Gedung Negara Grahadi dan DPRD Surabaya.
>>> Pramono-Rano Ungkap 7 Proyek Infrastruktur Jelang 5 Abad Jakarta
Massa yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, dan masyarakat mengatasnamakan Warga Surabaya Turun ke Jalan dengan mengusung tagline #IndonesiaSekarat.
Juru bicara Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma, menyebut aksi ini sebagai kelanjutan dari perlawanan sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM semakin membebani pelaku usaha kecil.
“Hari ini adalah perpanjangan atau napas dari perlawanan Kota Surabaya. Saya merasa bahwa memang banyak sekali bahan pokok yang naik, yang kemudian dikeluhkan oleh customer-customer saya.
Itu representasi dari saya sendiri selaku pedagang kecil,” katanya, Jumat.
>>> Hasil Piala Dunia 2026: Imbang vs Kolombia, Portugal di Jalur Neraka
Salah satu tuntutan utama massa adalah agar pemerintah segera menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Update Terbaru
Event Final Shot Free Fire 28 Juni: Hadirkan Skin Desert Eagle Golden Chakri
Minggu / 28-06-2026, 10:29 WIB
HIPELKI 2026: Koalisi Advokasi Jadi Kunci Kurangi Ketergantungan Impor Alat Kesehatan
Minggu / 28-06-2026, 10:29 WIB
Korban Jiwa Gempa Venezuela Tembus 1.430 Orang, Waktu Penyelamatan Menipis
Minggu / 28-06-2026, 10:28 WIB
Kemenperin Minta Kebijakan AGIT Dicabut, Hambat Implementasi HGBT
Minggu / 28-06-2026, 10:28 WIB
Fortuner Diesel Eks Kendaraan Dinas Dilelang Rp 128 Juta, Pajaknya Cuma Rp 1,8 Juta
Minggu / 28-06-2026, 10:28 WIB
Said Didu Sebut Prabowo Hanya Jadi Presiden 2 Tahun, Gibran Gantikan?
Minggu / 28-06-2026, 10:28 WIB
Pilpres 2029 Mungkin Tak Akan Terjadi, Ini Kata Pegiat Medsos
Minggu / 28-06-2026, 10:28 WIB
30 Tim Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, RD Kongo Jadi Penghuni Terbaru
Minggu / 28-06-2026, 10:27 WIB
Penyuka Warna Biru Punya 6 Karakter Khas Ini, Apa Saja?
Minggu / 28-06-2026, 10:27 WIB
Spanyol Pincang di 32 Besar Piala Dunia 2026, 2 Winger Cedera Serius
Minggu / 28-06-2026, 10:27 WIB
Trump: Bila AS Pakai Cara Militer, Iran Tidak Akan Ada Lagi
Minggu / 28-06-2026, 10:22 WIB
Tanpa Messi, Argentina Unggul 2-0 atas Yordania di Babak Pertama Piala Dunia 2026
Minggu / 28-06-2026, 10:22 WIB
Aljazair vs Austria Imbang di Babak Pertama, Iran Terancam
Minggu / 28-06-2026, 10:22 WIB
Luka Modric Cetak Rekor Assist Tertua di Piala Dunia 2026
Minggu / 28-06-2026, 10:21 WIB






