Pemerintah diminta tidak mengabaikan kemunculan kembali lagu plesetan "Naik-Naik ke Puncak Gunung" yang berisi kritik terhadap kenaikan harga BBM, tarif listrik, dan kebutuhan pokok.

Lagu tersebut kembali terdengar dalam sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa belakangan ini.

in1

>>> Pemerintah Belum Pastikan Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa Berakhir Bulan Ini

Pengamat Politik Hendri Satrio menilai fenomena ini harus dibaca sebagai pesan politik dan sosial yang serius.

"Ada syair lagu yang dipopulerkan oleh seorang pemimpin agama ternama yang sayup-sayup mulai kembali terdengar, terakhir di demo mahasiswa belakangan ini.

Menurut saya pemerintah harus menangkap ini sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai merasa ekonomi saat ini semakin menekan mereka," ujar Hendri, Selasa (23/6).

Lagu plesetan tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Rizieq Shihab pada 2017 sebagai bentuk kritik terhadap kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan pokok.

Liriknya berbunyi "Naik, naik, BBM naik. Tinggi, tinggi sekali.

Naik, naik, pajak pun naik. Tinggi, tinggi sekali," hingga "Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara."

Menurut Hendri, meski hanya gubahan dari lagu anak-anak, pesan yang terkandung sangat kuat karena menggambarkan realitas yang dirasakan sebagian masyarakat saat ini.

"Penguasa, pemerintah, enggak boleh menganggap remeh isi pesan yang ada di syair itu, karena mereka mengucapkan tentang kenyataan hari ini, tentang BBM yang naik, tarif listrik yang naik, harga cabai yang naik dan ada rakyat yang sengsara," katanya.

Hensa mengakui bahwa kenaikan harga BBM saat ini menyasar jenis non-subsidi seperti Pertamax.

>>> Relawan Minta Publik Sabar, Jokowi Akan Ungkap Sosok 'Orang Kuat' di Balik Roy Suryo dan Dokter Tifa

Namun, dampaknya tidak bisa dipandang sebelah mata karena mayoritas pengguna BBM non-subsidi berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah yang memiliki kontribusi besar terhadap roda perekonomian.