Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi di sektor fiskal, pangan, dan transportasi untuk mengantisipasi lonjakan inflasi pada semester II 2026.

Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

in1

>>> Amartha Salurkan Pembiayaan UMKM Rp47 Triliun hingga Akhir 2025

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa kebijakan penanganan dampak inflasi akan segera diumumkan ke publik.

"Dalam waktu dekat akan diumumkan stimulus ekonomi semester dua tahun 2026, yaitu terkait dengan stimulus fiskal, pangan, dan transportasi," ujarnya.

Selain stimulus, pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat melalui kolaborasi dengan ribuan ritel modern.

Program diskon besar-besaran dengan skema BINA dan Back to School digelar pada Juni hingga Juli.

>>> Pemerintah Siapkan Rp 1,54 Triliun untuk Subsidi Transportasi Liburan

Budi Santoso menjelaskan bahwa program tersebut melibatkan sekitar 414 department store dengan total gerai sekitar 80.000. Transaksi yang diharapkan mencapai sekitar Rp30 triliun.

Pemerintah daerah juga turut mendorong perekonomian melalui Jakarta Great Sale dalam rangka HUT Jakarta. Acara ini melibatkan 104 department store dengan target transaksi Rp16 triliun.

Kenaikan harga komoditas energi nonsubsidi diprediksi menjadi pemicu utama fluktuasi inflasi nasional. Deputi Gubernur BI Aida S.

>>> Neymar Junior Kembali Berlatih Bersama Tim Nasional Brasil

Budiman menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut dapat menyumbang sekitar 0,25% terhadap inflasi nasional.