Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia mengatakan Iran bisa 'tidak akan ada lagi' jika Washington terpaksa melanjutkan perang.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (28/6).

in1

>>> Tanpa Messi, Argentina Unggul 2-0 atas Yordania di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Ancaman ini muncul setelah AS kembali menyerang sejumlah target Iran di tengah saling balas serangan di Selat Hormuz.

Trump menuduh Teheran melanggar kesepakatan gencatan senjata. Ia membenarkan serangan terbaru militer AS terhadap fasilitas militer Iran sebagai bentuk pembalasan.

"Pesawat Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta lokasi radar pesisir karena kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata!"

tulis Trump.

"Akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal dan terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses.

Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tambahnya.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku.

Kapal itu mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah.

Militer AS menyebut operasi itu menyasar infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, serta kemampuan peletak ranjau.

>>> Aljazair vs Austria Imbang di Babak Pertama, Iran Terancam

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm di Iran selatan.

Sebelumnya, AS juga mengaku menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal Ever Lovely.

Iran kemudian mengklaim telah menyerang target-target AS di kawasan Teluk sebagai aksi balasan. Bahrain juga menyatakan wilayahnya menjadi sasaran beberapa drone Iran pada Sabtu dini hari waktu setempat.