Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi momentum yang tepat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi, mengatakan kenaikan harga BBM sekitar 37 persen yang berlaku sejak 10 Juni 2026 semakin meningkatkan beban biaya masyarakat, baik pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.

in1

>>> Alex Marquez Dapat Lampu Hijau untuk Latihan GP Ceko

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat biaya impor BBM semakin mahal dan berpotensi menambah beban subsidi energi yang ditanggung pemerintah.

"Kondisi ini menciptakan peluang sebagai momentum paling tepat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara masif di Indonesia," kata Budi dikutip dari Antara.

Menurut Budi, setiap kendaraan listrik yang digunakan masyarakat akan mengurangi ketergantungan terhadap BBM secara permanen.

Langkah ini juga dapat memperluas ruang fiskal pemerintah dan mengurangi dampak fluktuasi harga energi global terhadap APBN.

Mengacu pada riset INDEF 2025, hampir 20 persen pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk kebutuhan kendaraan, mulai dari pembelian, perawatan, pajak hingga bahan bakar.

Karena itu, dukungan pemerintah terhadap penggunaan kendaraan listrik dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

"Dalam situasi inilah kami siap mendukung komitmen pemerintah dalam mendorong transisi kendaraan listrik," katanya.

Dukungan Masyarakat terhadap Kendaraan Listrik

AISMOLI juga menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional melalui kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.

Budi mengungkapkan dukungan masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat.

Berdasarkan survei yang dilakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, sebanyak 98 persen responden mendukung penggunaan kendaraan listrik.