Forum yang digelar oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama ASEAN Climate Change and Energy Project (ACEC) menyoroti pentingnya akses listrik rendah karbon sebagai fondasi ketahanan industri, daya saing ekspor, dan daya tarik investasi.

Konsumsi listrik industri mencapai sekitar 40–45 persen dari total nasional. Sektor korporasi dipandang sebagai aktor kunci dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia.

in1

>>> Diastika Biotekindo Siapkan Dana Rp 15 Miliar untuk Buyback Saham

Diskusi difokuskan pada upaya menyelaraskan kebutuhan energi bersih sektor industri dengan perencanaan nasional, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan program energi baru terbarukan (EBT).

Forum juga membahas berbagai jalur percepatan, mulai dari aspek regulasi, teknis, hingga pembiayaan. Tujuannya memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.

Sejumlah skema pengadaan energi bersih turut dibahas sebagai opsi kebijakan yang lebih transparan dan bankable.

Di antaranya tarif hijau (green tariffs), Perjanjian Jual Beli Listrik korporasi (corporate PPA), akses langsung energi, hingga pengembangan PLTS atap.

Forum dibuka oleh Executive Director IBCSD Indah Budiani dan Chief of Staff ACEC Minh Anh Nguyen (Mia).

Acara dilanjutkan dengan paparan kebijakan dari Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM mengenai arah pengembangan energi nasional.

Indah Budiani menegaskan bahwa keterlibatan industri menjadi elemen penting dalam mendorong kebijakan energi yang realistis dan selaras dengan dinamika pasar global.

"Industri adalah mitra strategis yang mampu mendorong kebijakan yang dapat diimplementasikan dan selaras dengan dinamika pasar global.

Forum ini menjembatani kesenjangan antara permintaan industri dan kerangka kebijakan nasional," ujarnya dalam keterangan, Jumat (19/6/2026).

>>> Kode Redeem FF 20 Juni 2026: Klaim Diamond Gratis dari Kolaborasi Garena dan Shopee