Cahaya merah di sepanjang Frederiksborgvej di Gladsaxe, pinggiran Kopenhagen, bukan sekadar efek sinematik.

Pemerintah setempat sengaja mengganti lampu jalan biasa dengan LED spektrum merah di dekat koridor terbang kelelawar.

in1

>>> Korban Tewas Gempa Venezuela Bertambah Jadi 164 Jiwa, 971 Orang Luka

Proyek ini bertujuan mengurangi polusi cahaya tanpa membuat pengendara dan pesepeda berada dalam kegelapan.

Langkah ini memunculkan pertanyaan besar bagi kota modern: bagaimana jika lampu yang membantu manusia bergerak di malam hari justru menghalangi hewan melakukan hal yang sama?

Jalan yang Bersinar Merah

Proyek berfokus pada Frederiksborgvej dekat Skovbrynet, tempat koloni kelelawar hidup dekat jalan.

Saat renovasi penerangan, pemerintah memilih lampu yang mengganggu kelelawar dan keanekaragaman hayati seminimal mungkin, namun tetap mendukung keselamatan lalu lintas.

Lampu merah hanya dipasang di area yang paling sering dilalui kelelawar, bukan di seluruh kota.

Light Bureau, bagian dari AFRY, menyebut area ini sepanjang sekitar 0,4 mil di Frederiksborgvej dan jalur sepeda Farum, tempat beberapa spesies kelelawar bertengger dan mencari makan.

Desain lampu sengaja rendah dan renggang.

Sebanyak 30 tiang setinggi 3,3 kaki dipasang dengan jarak 98 kaki, menciptakan genangan cahaya merah dengan celah gelap di antaranya.

Di persimpangan, 12 tiang lebih tinggi sekitar 11,5 kaki digunakan untuk meningkatkan visibilitas.

Mengapa Kelelawar Penting

Bagi banyak spesies kelelawar, kegelapan bukan sekadar suasana, melainkan bagian dari peta yang mereka gunakan untuk bepergian antara tempat bertengger dan area mencari makan.

Rilis resmi Gladsaxe menyebut tujuh spesies kelelawar tercatat di sekitar Frederiksborgvej.

Tak satu pun dari tujuh spesies itu terancam atau masuk daftar merah, namun pemerintah mencatat bahwa kelelawar pipistrelle umum dan kelelawar bertelinga panjang menghadapi risiko dampak negatif terbesar dari jalan di area tersebut.