Lampu putih terang dapat membuat beberapa kelelawar menghindari area itu, menyusutkan ruang yang bisa mereka gunakan dengan aman.

Ilmu di balik lampu merah bukan sekadar estetika.

in1

Sebuah proyek riset Belanda menemukan bahwa cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, termasuk biru, hijau, dan putih, memiliki efek lebih kuat pada perilaku kelelawar daripada cahaya panjang gelombang lebih panjang seperti merah.

Gladsaxe mengutip riset itu saat menjelaskan mengapa lampu merah dipilih.

>>> KPK Geledah Kantor BPK Sumsel, Sita Dokumen Dugaan Suap

Studi tahun 2017 yang dipimpin Kamiel Spoelstra menguji aktivitas kelelawar di bawah cahaya putih, hijau, dan merah di habitat alami yang gelap.

Hasilnya, kelelawar Myotis dan Plecotus yang lambat terbang dan sensitif cahaya menghindari cahaya putih dan hijau, tetapi sama aktifnya di bawah cahaya merah dan kegelapan.

Spoelstra menyatakan, "Kami menemukan kelelawar ini sama aktifnya di cahaya merah dan kegelapan." Cahaya putih dan hijau, sebaliknya, mengurangi aktivitas kelelawar yang sensitif cahaya.

Tujuannya bukan menjadikan Frederiksborgvej sebagai cagar alam gelap.

Insinyur jalan Gladsaxe Jonas Jørgensen mengatakan pemerintah menginginkan penerangan yang memengaruhi kelelawar dan alam sesedikit mungkin, tanpa mengorbankan keselamatan lalu lintas.

Lampu putih hangat dan tiang lebih tinggi digunakan di simpul lalu lintas dan penyeberangan pesepeda untuk meningkatkan visibilitas.

Dengan beralih ke lampu LED merah, Gladsaxe melindungi populasi kelelawar lokal dari polusi cahaya sambil mempertahankan visibilitas bagi pesepeda.

Keseimbangan ini penting karena penerangan kota selalu merupakan kompromi.

Philip Jelvard, desainer pencahayaan di Light Bureau, mengatakan lampu merah harus memiliki "nilai fungsional" dan "nilai simbolis".

Menurutnya, lampu itu harus membuat orang yang lewat sadar bahwa ini adalah "area alam khusus" yang ingin dilindungi pemerintah.