Sebuah studi yang mengikuti sekitar 700 wanita selama lima tahun menemukan hubungan menarik antara perubahan pola tidur dan risiko demensia.

Peningkatan rasa kantuk di siang hari dan keinginan tidur yang lebih kuat bisa menjadi tanda peringatan awal demensia seiring bertambahnya usia.

in1

>>> Bumbu Dapur Ini Bisa Cegah Jamur di Rumah, Kata Penelitian

Apa Itu Demensia?

Demensia bukan satu penyakit tunggal, melainkan istilah untuk beberapa penyakit yang memengaruhi ingatan, berpikir, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Penyebab paling umum adalah Alzheimer, yang mencakup 60 hingga 70 persen kasus demensia.

Gejala meliputi mudah lupa, kehilangan barang, disorientasi, kesulitan mengambil keputusan, dan masalah dalam percakapan.

Seiring perkembangan penyakit, penderitanya bisa kehilangan kemandirian.

Faktor Risiko dan Peran Durasi Tidur

Usia memang faktor risiko terbesar, tetapi gaya hidup juga berperan. Kurang gerak, obesitas, gangguan pendengaran, isolasi sosial, merokok, konsumsi alkohol, dan diabetes tidak terkontrol meningkatkan risiko.

Menariknya, dua studi terbaru mengaitkan tidur terlalu lama dengan risiko demensia lebih tinggi. Ini mengejutkan karena penelitian sebelumnya menganggap kurang tidur sebagai masalah utama.

Namun, masih belum jelas mana yang lebih buruk bagi kesehatan otak. Kebanyakan studi sebelumnya mengandalkan data tidur yang dilaporkan sendiri, bukan pengukuran objektif.

Tim dari University of California, San Francisco merekrut 733 wanita berusia rata-rata 82 tahun yang tidak menunjukkan penurunan kognitif.

Selama lima tahun, mereka memantau kebiasaan tidur dan kaitannya dengan demensia.

Setiap peserta memakai actigraph selama tiga hari untuk melacak pergerakan, tidur malam, tidur siang, dan pola aktivitas. Mereka juga mencatat jurnal tidur.

>>> realme NARZO Days Sale: Diskon Smartphone Hingga 30 Juni 2026