Hasilnya setelah lima tahun: durasi tidur siang rata-rata bertambah 33,1 menit, total waktu tidur naik 18,7 menit, dan efisiensi tidur turun 6 persen.

Sebanyak 44 persen wanita memiliki kebiasaan tidur stabil, sementara 21,3 persen mengalami peningkatan signifikan dalam durasi dan kualitas tidur siang dan malam.

in1

Berdasarkan tes neuropsikologis dan catatan medis, 22,4 persen didiagnosis dengan gangguan kognitif ringan, dan 12,7 persen mengembangkan demensia.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Neurology menunjukkan bahwa wanita dengan peningkatan rasa kantuk di siang hari—terutama yang tidur siang lebih lama dan lebih sering—memiliki risiko demensia hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang pola tidurnya stabil.

Kualitas tidur yang buruk dan lebih banyak waktu terjaga di malam hari juga terkait dengan risiko demensia lebih tinggi.

Namun, penelitian ini belum bisa memastikan apakah masalah tidur menyebabkan demensia atau sebaliknya.

Yang jelas, mengukur aktivitas tidur-bangun selama 24 jam bisa menjadi cara sederhana untuk menilai risiko demensia seseorang.

Pendekatan ini bahkan bisa menjadi penanda awal untuk memberikan perawatan lebih dini. Tidur siang yang semakin panjang seiring usia mungkin tidak sesehat yang kita kira.

Demensia menjadi tantangan kesehatan masyarakat global.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 57 juta orang terkena demensia pada 2021, dengan 10 juta kasus baru setiap tahun.

>>> Samsung Galaxy A27 5G Resmi: Layar AMOLED 120Hz dan Snapdragon 6 Gen 3

Demensia adalah penyebab kematian ketujuh dan salah satu penyebab utama kecacatan pada lansia.