Indonesia saat ini tengah memasuki fase aging population atau populasi menua. Proporsi penduduk lansia di Indonesia kini tercatat di atas 10 persen.

Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk lansia sudah mencapai 11,97 persen.

in1

>>> Cinta Ronaldo-Messi vs Anarkisme Mbappe-Haaland di Piala Dunia 2026

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menyoroti pentingnya program yang dapat menjaga kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aktif, dan tidak kesepian.

Kesepian menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi fase aging population. Ditambah lagi, kesepian erat kaitannya dengan depresi.

Prevalensi Kesepian dan Depresi pada Lansia

Berdasarkan data dalam policy brief Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA 2024, prevalensi kesepian pada lansia mencapai 10,3 persen pada 2022.

Sementara depresi, angkanya mencapai 64,4 persen dalam hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kemenkes pada 2024.

Menurut policy brief tersebut, prevalensi depresi pada lansia perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.

Depresi lebih banyak ditemukan pada usia di atas 80 tahun dan cenderung lebih tinggi pada lansia dengan pendidikan rendah, tinggal sendirian, dan belum menikah.

Hasil penelitian lain yang dipublikasi di Jurnal Ners (2025) oleh Yuni Asri et al. menunjukkan 11,2 persen lansia melaporkan tingkat kesepian yang tinggi.

Faktor penyebabnya antara lain pendidikan rendah, merasa tidak puas dengan hidup, hingga kualitas tidur yang buruk.

Uniknya, lansia yang tinggal di Sumatra lebih kecil kemungkinannya merasa kesepian dibandingkan daerah lain. Hal ini menunjukkan lokasi tempat tinggal juga bisa menjadi faktor penentu.

Kaitan Kesepian dan Depresi

Psikolog Arnold Lukito menjelaskan kaitan antara kesepian dan depresi pada lansia. Menurutnya, kedua hal ini bersifat seperti lingkaran setan.