Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa penanganan Alzheimer di Indonesia memerlukan pendekatan multidimensi yang mencakup aspek medis, sosial, dan kebijakan publik.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengungkapkan, berdasarkan Global Burden of Diseases Study 2021, sekitar 3,4 miliar orang di dunia hidup dengan kondisi neurologis.

in1

>>> Apakah Semua Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua? Menakar Film DOSA

Demensia saat ini diperkirakan memengaruhi sekitar 55,2 juta orang secara global, dengan 10 juta kasus baru setiap tahun.

Alzheimer menyumbang 60–70 persen dari seluruh kasus demensia.

Di Indonesia, penuaan populasi meningkatkan jumlah lansia rentan.

Pada 2025, jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta jiwa atau 11,9 persen dari total populasi.

Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer sebagai bentuk dominan yang menyumbang lebih dari 60 persen kasus demensia nasional.

Laporan GBD 2021 juga menunjukkan bahwa perempuan lebih sering terdampak Alzheimer, demensia kognitif, depresi, dan migrain. Faktor yang berkontribusi meliputi harapan hidup lebih panjang dan pengaruh hormon estrogen.

Sementara itu, laki-laki memiliki prevalensi lebih tinggi untuk autisme, ADHD, trauma kepala, dan gangguan motorik seperti Parkinson.

Dampak ekonomi global akibat demensia diperkirakan mencapai 1,3 triliun dolar AS per tahun, mencakup biaya perawatan langsung, beban caregiver, dan hilangnya produktivitas.

Imran menambahkan bahwa stroke tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas, yang turut memperbesar risiko gangguan kognitif sekunder.

Distribusi tenaga kesehatan spesialis yang terkonsentrasi di kota besar memperparah kesenjangan akses layanan di daerah terpencil, sehingga waktu diagnosis dan peluang intervensi dini menjadi terbatas.