Terlebih jika interaksi dengan keluarga terasa dangkal atau ia merasa dianggap sebagai beban di rumah.

"Di Indonesia, hal ini sering luput karena kita berasumsi tinggal bersama keluarga otomatis membuat lansia lebih aman atau terlindungi.

in1

Padahal, ditemani secara fisik dan terhubung secara emosional adalah dua hal yang berbeda," kata Arnold.

Penyebab kesepian dan depresi pada lansia bersifat multifaktor.

Arnold mengatakan, penyebabnya bisa karena kehilangan beruntun, misalnya pasangan, saudara, dan teman sebaya yang meninggal satu per satu.

Bisa pula karena lansia kehilangan peran dan tujuan hidup setelah pensiun atau anak-anaknya mulai mandiri. Kesepian dan depresi juga bisa diperparah dengan menurunnya kondisi fisik.

Lansia cenderung mengalami penurunan kesehatan, mobilitas, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan yang bisa membuat mereka makin menarik diri dari kehidupan sosial.

Arnold menyebut beberapa kelompok lansia yang paling rentan mengalami kesepian dan depresi.

"Lansia yang baru ditinggal pasangan, yang tinggal sendiri, yang punya penyakit kronis atau keterbatasan gerak, dan yang merasa dirinya tidak lagi berguna dan menjadi tanggungan.

Di banyak daerah, kerentanan ini bertambah pada [lansia] yang ditinggal anak-anaknya merantau ke kota besar," tutur Arnold.

Pentingnya Memberikan Sense of Purpose pada Lansia

Lansia perlu didukung untuk menghindari kesepian dan depresi. Misalnya, menciptakan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan lansia seperti menekuni hobi berkebun, bertani, atau aktivitas ringan lainnya.

Arnold tak menampik kebutuhan aktivitas untuk lansia seperti yang disebutkan di atas. Hanya saja, ia mengingatkan setiap kegiatan harus memberikan rasa berdaya dan rasa yang dibutuhkan lansia.

Lansia, lanjut Arnold, bisa bertahan dan semangat saat mereka punya sesuatu untuk diurus dan ada keputusan yang bisa diambil.