Mengutip dari John T. Cacioppo, Arnold mengatakan perasaan kesepian merupakan alarm biologis yang mengindikasikan kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain.

Jika alarm tersebut menyala terus tanpa bisa dipenuhi, otak mulai melihat lingkungan sosial sebagai ancaman.

in1

"Akibatnya, lansia makin menarik diri, makin terisolasi, dan depresinya makin berat. Jadi, rasa kesepian sebetulnya tanda psikologis yang wajar, bukan kelemahan atau kekurangan," kata Arnold kepada CNNIndonesia.

com, Rabu (24/6).

Rasa kesepian tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya tak hanya pada depresi. Berdasarkan meta analisis Julianne Holt-Lunstad et al.

pada 2015, kesepian dan isolasi sosial bisa meningkatkan risiko kematian yang bahkan melebihi risiko obesitas.

"Kesepian yang kronis berkorelasi dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, inflamasi dalam tubuh, penurunan daya ingat, hingga peningkatan risiko demensia," kata Arnold lagi.

Adapun depresi pada lansia, menurut Arnold, kadang tak terdeteksi karena gejalanya muncul sebagai keluhan fisik, mulai dari pegal-pegal, sulit tidur, atau lemas.

Berbagai keluhan ini sering tidak ditindaklanjuti karena dianggap wajar akibat faktor usia.

Padahal, depresi bukanlah aspek normal dari penuaan. Ini merupakan kondisi yang perlu dipulihkan.

Kesendirian Tak Sama dengan Kesepian

Lansia yang tinggal sendiri menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Namun, ini bukan berarti lansia yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami kesepian sama sekali.

>>> Kuasa Hukum: Jokowi Tak Punya Kepentingan Roy Suryo Ditahan atau Tidak

"Miskonsepsi yang sering terjadi adalah menyamakan kesepian dengan sendirian.

Kesepian sifatnya subjektif, yaitu gap antara kedekatan yang seseorang butuhkan dan kedekatan yang benar-benar ia rasakan," tutur Arnold.

Inilah mengapa seorang lansia yang tinggal di rumah bersama anak cucu bisa tetap merasa kesepian.