General Motors (GM) kembali menjadi sorotan setelah menambah puluhan robot di pabrik Factory Zero, Amerika Serikat, hanya beberapa pekan setelah merumahkan lebih dari 1.000 karyawan.

Presiden United Auto Workers (UAW) Local 22, James Cotton, mengungkapkan bahwa GM telah mengintegrasikan sekitar 50 robot kolaboratif buatan Fanuc ke lini produksi.

in1

>>> Fenomena Fatherless: 1 dari 4 Anak Indonesia Tumbuh Tanpa Kehadiran Ayah

Robot-robot itu membantu manusia memasang berbagai komponen kendaraan.

Cotton mengakui teknologi tersebut dapat meringankan beban fisik buruh, namun momentum kedatangannya dinilai kurang tepat dan memicu kecemasan.

"Kekhawatiran pasti selalu muncul saat robot mulai masuk ke pabrik, apalagi momennya terjadi tepat setelah seribu lebih pekerja diistirahatkan," ujarnya.

Protes Keselamatan vs. Modernisasi

UAW langsung melayangkan protes resmi kepada manajemen GM.

Fokus utama mereka adalah masalah keselamatan kerja karena interaksi fisik antara mesin dan manusia kini terjadi dalam jarak sangat dekat.

Di sisi lain, GM beralasan bahwa instalasi robot adalah bagian dari modernisasi pabrik.

>>> Festival Kuliner hingga Digital Expo Siap Ramaikan BKB, LRT Palembang Cuma Rp43

Juru bicara GM, Kevin Kelly, menegaskan teknologi ini hadir untuk meningkatkan standar keselamatan, memperbaiki aspek ergonomis bagi pekerja yang tersisa, dan menjaga daya saing perusahaan di pasar global.

Factory Zero sebenarnya diproyeksikan sebagai pusat perakitan kendaraan listrik (EV).

Namun, tren pertumbuhan pasar mobil listrik di AS yang melandai memaksa GM melakukan penyesuaian radikal, termasuk menghentikan produksi sementara dan mengurangi staf.

Pakar hubungan industrial dari Wayne State University, Marick Masters, memaparkan bahwa otomatisasi telah memangkas kebutuhan jam kerja dalam produksi kendaraan sebesar 50 hingga 70 persen dibanding era 1980-an.

Dampak AI dan robotika diprediksi menjadi sumbu utama dalam negosiasi kontrak kerja antara GM dan UAW pada 2028.

Presiden UAW, Shawn Fain, mengingatkan bahwa gelombang otomatisasi massal dan kemunculan robot humanoid bukan lagi sekadar inovasi, melainkan tantangan nyata bagi stabilitas sosial dan ekonomi pekerja.

>>> Pemalangan RSUP Jayapura, Kemenkes: RS Harus Tetap Bisa Diakses

"Kita sedang hidup di tengah salah satu revolusi teknologi paling masif dalam sejarah. Ini adalah tantangan serius bagi tatanan ekonomi dan sistem sosial kita," pungkasnya.