Sekitar 22,9 juta anak Indonesia tumbuh dalam kondisi fatherless, yaitu keadaan tanpa kehadiran ayah yang utuh secara emosional.

Angka itu mungkin terasa abstrak. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam rumah, melainkan membentuk pola sosial yang lebih luas.

in1

>>> Festival Kuliner hingga Digital Expo Siap Ramaikan BKB, LRT Palembang Cuma Rp43

Data terbaru dari Pendataan Keluarga 2025 Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyebut satu dari empat anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Fatherless bukan sekadar anak yatim.

Kondisi ini merujuk pada anak yang tidak merasakan pendampingan, kedekatan, dan pendidikan dari ayah, meski sosoknya ada di rumah yang sama.

Banyak ayah yang hadir secara fisik, tetapi hatinya jauh. Sebagian tenggelam dalam pekerjaan, mengejar angka tanpa menyadari anak-anaknya tumbuh tanpa dirinya.

Ada pula yang terlalu lelah dan menganggap pengasuhan anak semata tugas ibu. Atau yang sibuk dengan layar dan urusannya sendiri, melewatkan obrolan sederhana dengan anak.

>>> Pemalangan RSUP Jayapura, Kemenkes: RS Harus Tetap Bisa Diakses

Yang menyedihkan, semua itu terjadi perlahan tanpa disadari. Tidak ada pertengkaran besar, hanya jarak yang bertambah sedikit demi sedikit.

Di bawah atap yang sama, anak dan ayah tumbuh seperti orang asing yang saling mengenal nama, tetapi tidak saling memahami.

Luka ini jarang berhenti pada satu generasi. Banyak ayah yang gagal hadir hari ini juga dibesarkan dalam lingkungan yang miskin kedekatan emosional.

Mereka diajarkan menjadi kuat, tetapi tidak pernah belajar mengungkapkan kasih sayang. Akibatnya, pola yang sama bergerak dari generasi ke generasi.

Fatherless pun berubah dari persoalan keluarga menjadi persoalan peradaban.

>>> EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile 21 Juni 2026, Klaim Hadiah Gratis

Sebuah generasi dibesarkan dengan pengalaman emosional yang serupa, lalu membawanya ke sekolah, tempat kerja, pernikahan, hingga cara mereka membesarkan anak kelak.