Kasus pubertas dini atau pubertas prekoks pada anak semakin banyak ditemukan. Kondisi ini membuat orang tua bingung karena tubuh anak terlihat seperti dewasa meski usianya masih anak-anak.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Prodia Women's Health Centre Jakarta, dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp. OG, mengatakan fenomena ini kerap terjadi.

in1

>>> Kemenag NTB Usulkan Moratorium Pendirian Pondok Pesantren Baru

"Memang sekarang makin banyak pubertas prekoks terjadi. Jadi jangan bingung kalau anak sekarang masih kecil, tetapi perilakunya terlihat lebih dewasa," ujarnya.

Pubertas prekoks adalah perubahan fisik menuju kedewasaan yang terjadi jauh lebih awal dari usia normal. Dalam istilah awam, kondisi ini disebut puber sebelum waktunya.

Menurut dr. Ratna, tren pubertas dini terlihat dari semakin mudanya usia anak perempuan mengalami menstruasi pertama.

Jika dulu menstruasi terjadi pada usia 11-12 tahun, kini banyak ditemukan pada usia 8-9 tahun.

"Mungkin kalau dulu kita menstruasi pada usia 12 atau 13 tahun. Namun sekarang ada anak usia 7 atau 8 tahun yang sudah menstruasi.

Begitu juga pada anak laki-laki. Jadi memang pubertasnya jauh lebih cepat," ungkapnya.

Dokter yang kerap menangani masalah hormonal itu menjelaskan bahwa penyebab pubertas dini tidak semata-mata dari pola makan.

Faktor genetik juga berperan, termasuk kecenderungan kadar hormon yang lebih tinggi sejak anak masih dalam kandungan.

"Jadi saat ibu mengandung, produksi hormon tertentu sudah mulai memengaruhi kondisi calon anak yang ada di dalam kandungan," jelas dr. Ratna.

>>> Asosiasi Minta Kepastian dan Mitigasi Usai Moratorium Dapur MBG

Ia menambahkan, pada sebagian orang yang menjalani pemeriksaan hormon, sering ditemukan kadar hormon dasar yang menunjukkan estrogen lebih tinggi.