Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menyoroti dua ancaman besar yang dihadapi perkebunan sawit rakyat saat ini, yaitu serangan penyakit ganoderma dan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di berbagai daerah.

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengungkapkan bahwa penyebaran penyakit ganoderma mulai mengancam kebun-kebun sawit rakyat di sejumlah daerah.

in1

>>> BKSDA Aceh Translokasi Orang Utan Terisolir di Kebun Warga

"Ganoderma merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena menyerang bagian akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Berbeda dengan serangan kumbang tanduk yang dapat terlihat secara kasat mata, ganoderma bekerja secara perlahan hingga menyebabkan tanaman layu dan mati.

"Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin.

Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat," tegasnya dalam Workshop "Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit" di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Gulat mengingatkan bahwa sejumlah sentra perkebunan sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan penyakit tersebut, sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini.

Terkait anjloknya harga TBS yang dalam beberapa pekan terakhir membuat petani sawit merugi, menurut dia salah satu penyebab utamanya adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).

Ketika tender mengalami withdrawal atau gagal transaksi secara berulang, pasar kehilangan referensi harga yang selama ini menjadi acuan dalam pembentukan harga TBS.

Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat.