Fase penuaan sering memicu kecemasan karena dikaitkan dengan penurunan fisik, risiko penyakit, dan berkurangnya produktivitas. Para ahli menilai cara pandang keliru ini perlu segera diubah.

Mental Health Counselor Hoshael Waluyo Erlan, M. Psi.

in1

>>> Lavrov: Eropa Ingin Berunding tapi Terus Lancarkan Perang Hukum

, Psikolog, bersama aktivis pemberdayaan perempuan Nani Zulminarni, menyoroti pentingnya membangun persepsi yang lebih sehat terhadap proses bertambahnya usia.

Menurut Hoshael, tantangan terbesar dalam proses penuaan justru berasal dari aspek kesehatan mental. Banyak orang menganggap menua identik dengan berbagai kemunduran hidup.

"Tantangan dalam penuaan salah satunya ada di kesehatan mental, karena masih banyak dari kita yang beranggapan menua itu identiknya dengan penurunan," kata dia dalam talkshow Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026).

Pandangan keliru ini melahirkan stereotip negatif bahwa lansia pasti lemah, rentan sakit, dan kehilangan kesempatan berkembang.

Akibatnya, muncul rasa takut kehilangan peran sosial maupun daya tarik fisik bahkan jauh sebelum memasuki masa lanjut usia.

Hoshael menjelaskan bahwa persepsi menakutkan mengenai penuaan sebenarnya dibentuk oleh narasi negatif yang terus berkembang di lingkungan sosial.

"Menua juga dianggap semakin lemah, sakit-sakitan, dan mendekati kedaluwarsa. Narasi seperti ini yang membuat menua jadi sesuatu hal yang menakutkan," ujarnya.

Padahal, bertambahnya usia memungkinkan seseorang memiliki pemahaman hidup yang lebih luas, pengelolaan emosi yang lebih baik, serta pengalaman berharga yang tidak instan.

Penuaan harus dilihat sebagai proses alami yang tidak semata-mata berfokus pada perubahan fisik.

Melalui cara pandang yang seimbang, setiap fase kehidupan dapat dijalani tanpa dihantui rasa takut berlebihan.

Hoshael menilai menua pada dasarnya membawa banyak perubahan positif, termasuk kesempatan mengembangkan kualitas psikologis yang semakin matang.