Masa tua yang penuh sukacita tidak hanya bergantung pada kondisi fisik atau pola pikir saat lanjut usia. Menua secara positif perlu dipersiapkan jauh sebelum memasuki fase lansia.

Mental Health Counselor Hoshael Waluyo Erlan, M. Psi.

in1

>>> Prabowo Panggil Erick Thohir dan John Herdman ke Hambalang, Bahas Target Piala Dunia 2030

, Psikolog menilai kebahagiaan di usia senja bukan sekadar urusan personal. Lingkungan yang suportif juga sangat berpengaruh.

Salah satu kebutuhan krusial yang kerap terabaikan adalah hubungan sosial yang mendalam.

"Lansia itu juga butuh hubungan yang bermakna dengan orang lain, baik dari pertemanan atau komunitas, bisa tetap berkarya, dan tetap coba hal baru," kata Hoshael dalam talkshow Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026).

Hubungan pertemanan yang sehat memberikan rasa kepemilikan, dukungan emosional, dan menjauhkan lansia dari rasa terisolasi. Sebaliknya, kesepian menjadi tantangan psikologis berat bagi para lansia.

Kehadiran sahabat dan aktivitas kelompok menjadi instrumen penting menjaga kesehatan mental. Interaksi positif membuat lansia tetap merasa dihargai dan memiliki arah hidup.

Lansia juga membutuhkan ruang untuk terus berkreasi sesuai stamina. Kegiatan produktif terbukti mempertahankan rasa percaya diri dan memberikan kepuasan batin.

Proses penuaan yang sehat dan bahagia tidak instan. Berbagai aspek mendasar perlu dirancang sejak usia produktif.

Menurut Hoshael, pembahasan masa tua bahagia tidak boleh terbatas pada pikiran positif saja, tetapi harus seimbang dengan kesehatan fisik dan mental.

"Itulah mengapa harus investasi kesehatan mental dan fisik sejak muda. Pertahankan relasi yang bermakna dan kita juga harus mempertahankan relevansi diri," ujarnya.

>>> Naykilla Gandeng Jefri Nichol di Video Klip My Mine Gueh