Mengakhiri hubungan asmara sering kali menjadi momen yang menguras emosi, terutama ketika perpisahan terjadi karena hilangnya perasaan tanpa masalah besar.

Meskipun keputusan disampaikan dengan cara terbaik, rasa bersalah tetap bisa muncul.

in1

>>> Real Madrid Incar Ayyoub Bouaddi Usai Tampil Gemilang Lawan Brasil

Pihak yang memutuskan berpisah kerap terbebani oleh dampak emosional pada mantan pasangan.

Psikolog konsultan Elena Touroni dari The Chelsea Psychology Clinic di London mengatakan, kita mungkin terus-menerus memikirkan perpisahan dan merasa sebagai orang 'jahat' karena mengakhirinya.

Kekecewaan akibat kegagalan hubungan memicu penyesalan karena telah menyakiti orang lain. Tingkat keparahan emosi ini dipengaruhi kondisi psikologis individu dan situasi perpisahan.

Seseorang bisa merasa sangat tertekan meskipun secara logika tahu perpisahan adalah jalan terbaik. Kesadaran bahwa keputusan telah melukai perasaan orang lain menjadi pemicu utama rasa bersalah.

Menurut Touroni, ketika tidak ada alasan jelas untuk mengakhiri hubungan, hal itu bisa terasa lebih sulit. Adanya konflik atau pertengkaran justru mempermudah melepaskan tanggung jawab atas kegagalan hubungan.

Ketiadaan masalah nyata rentan memicu rasa malu, keraguan atas keputusan sendiri, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Namun, penyesalan tidak selalu berdampak buruk.

Jika emosi negatif muncul akibat perilaku buruk saat berpisah, seperti perselingkuhan atau kata-kata kasar, hal itu bisa menjadi momentum evaluasi diri.

>>> FIFA Terapkan Regulasi Tie Breaker Ketat di Piala Dunia 2026

Sebaliknya, jika perpisahan dilakukan secara baik-baik, emosi tersebut hanya perlu dikelola dengan tepat.

Cara Mengelola Rasa Bersalah

Menyakinkan diri bahwa keputusan sudah benar menjadi langkah krusial. Proses meredakan rasa bersalah dapat diawali dengan menerima emosi tersebut sebagai sesuatu yang datang silih berganti.