Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, memperkirakan suku bunga acuan atau BI Rate akan bertahan di posisi 5,75% hingga akhir tahun 2026.

Menurut Myrdal, ruang penyesuaian BI Rate ke depan semakin terbatas dan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional.

in1

>>> IHSG Berbalik Menguat pada Sesi I Setelah Sempat Melemah

“Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75% hingga akhir tahun,” ujar Myrdal dalam siaran pers, Jumat (19/6/2026).

Myrdal mengungkapkan bahwa BI Rate telah meningkat sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang 2026.

Namun, secara kumulatif, kenaikan ini masih lebih rendah dibandingkan penurunan suku bunga sebesar 125 bps yang dilakukan pada tahun lalu.

Keputusan ini mencerminkan fokus Bank Indonesia (BI) yang tetap mengutamakan stabilitas makroekonomi, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

Kenaikan BI Rate juga menunjukkan kehati-hatian BI terhadap risiko tekanan pada nilai tukar rupiah serta potensi dampak imported inflation terhadap perekonomian domestik, terutama melalui kenaikan biaya produksi yang tercermin pada inflasi produsen.

Di sisi lain, kebijakan tersebut juga merupakan respons BI terhadap dinamika likuiditas domestik maupun eksternal.

Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi dan pembayaran dividen korporasi, serta dinamika arus modal global turut memengaruhi arah kebijakan moneter.

Myrdal memandang kenaikan BI Rate menjadi 5,75% sebagai bagian dari strategi antisipatif BI dalam menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah potensi perubahan arah kebijakan moneter global.