Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Keputusan ini diumumkan pada Kamis (18/6/2026).

in1

>>> Saham BCA Melemah 3,19% Setelah Investor Asing Jual Bersih Rp 51,94 Miliar

Dengan demikian, total kenaikan BI Rate mencapai 100 basis poin dalam kurun waktu satu bulan sejak 20 Mei 2026.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai kenaikan kali ini memiliki tujuan berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut Azharys, langkah BI mengerek suku bunga ke level 5,75 persen bertujuan utama untuk menstabilkan dan memperkuat nilai tukar rupiah yang sempat tertekan.

“Kenaikan suku bunga kali ini punya cerita yang berbeda dari biasanya.

Langkah BI mengerek suku bunga ke level 5,75 persen ini tujuan utamanya adalah untuk menstabilkan, bahkan memperkuat nilai tukar rupiah,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.

com, Kamis malam.

Kebijakan moneter BI berpotensi mendorong sebagian dana investor beralih ke pasar obligasi untuk memanfaatkan kenaikan imbal hasil yang lebih menarik.

Namun, Azharys melihat dampak jangka menengah kebijakan tersebut justru positif bagi pasar saham. Stabilitas rupiah dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.

“Kalau kita melihat dari rotasi likuiditas, memang ada potensi sebagian dana akan bergeser masuk ke pasar obligasi terlebih dahulu untuk menangkap yield yang menarik.

Namun, efek dominonya justru positif bagi IHSG ketika rupiah stabil dan investor asing mulai mencatatkan inflow kembali ke pasar domestik, bursa saham kita justru akan mendapatkan suntikan konfiden yang kuat,” paparnya.

Sementara itu, kurs rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis sore.