Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dollar AS.

Pelemahan rupiah terjadi tak berselang lama setelah BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

in1

Azharys memastikan investor saham telah mengantisipasi sikap agresif BI yang mengerek suku bunga acuan hingga 100 basis poin dalam waktu singkat.

Kenaikan BI Rate dipastikan tidak menimbulkan kepanikan di pasar karena investor memahami tujuan utama untuk meredam volatilitas rupiah.

Ia juga tidak melihat potensi IHSG terkoreksi akibat kenaikan BI Rate. Sebaliknya, pasar cenderung merespons positif kebijakan tersebut.

“Jadi, alih-alih memicu koreksi lanjutan yang dalam, saya rasa langkah agresif BI dalam waktu kurang dari dua bulan ini sudah diantisipasi secara positif oleh market.

Dengan hilangnya ketidakpastian seputar stabilitas mata uang, IHSG justru berpotensi bergerak menguat karena pondasi makronya dinilai menjadi lebih aman,” tukas dia.

Dampak Kenaikan Suku Bunga Menurut Pengamat

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai kenaikan suku bunga secara agresif dalam waktu relatif singkat dapat menekan pasar saham, terutama secara jangka pendek.

>>> Bapanas Salurkan 946,8 Ribu Ton Cadangan Beras Pemerintah hingga Juni 2026

Kenaikan BI Rate akan meningkatkan biaya dana (cost of fund), menekan pertumbuhan konsumsi dan investasi, serta membuat valuasi saham kurang menarik dibandingkan instrumen pendapatan tetap seperti obligasi.

“Dalam waktu relatif singkat BI telah menaikkan suku bunga secara agresif sehingga meningkatkan cost of fund, menekan tingkat pertumbuhan konsumsi dan investasi, serta membuat valuasi saham menjadi kalah menarik dibanding instrumen obligasi.

Dalam jangka pendek, sektor yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi menjadi tekanan utama bagi IHSG,” ucap Reydi saat dihubungi Kompas.