Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di 76 sekolah di Pulau Jawa. Keputusan ini berdampak pada 39.352 siswa.

Penghentian tersebut merupakan bagian dari efisiensi anggaran. Alokasi dana dialihkan ke kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan intervensi gizi.

in1

>>> Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 2026 dengan Mesin Baru 890 cc

Sasaran baru program meliputi sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), balita, serta ibu hamil dan menyusui.

Evaluasi dan Kriteria Ketat

Keputusan ini diambil setelah BGN melakukan pendataan berkala. Evaluasi menunjukkan bahwa 76 sekolah tersebut dinilai telah mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi siswanya.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa penyusunan kriteria ketat menjadi dasar penghentian bantuan.

"Sekolah-sekolah yang tadi saya sebutkan, berdasarkan beberapa kriteria yang kami susun, secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka," ujarnya.

>>> BI Rate Diprediksi Bertahan di 5,75% Hingga Akhir Tahun

BGN menerapkan indikator seperti kondisi sosial ekonomi, tingkat kerentanan gizi, dan akses pemenuhan gizi.

Siswa dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas atau kelompok desil tinggi dipastikan tidak lagi menerima program.

"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi ekonomi di desil yang tinggi, maka tidak akan diberikan program ini," kata Agustina.

Jumlah sekolah yang dihentikan masih bersifat dinamis. Proses pendataan dan evaluasi yang terus berjalan berpotensi menambah daftar sekolah yang tidak lagi menerima bantuan.

>>> IHSG Berbalik Menguat pada Sesi I Setelah Sempat Melemah

Kebijakan ini diambil untuk memastikan pemanfaatan APBN berjalan optimal. "Kami lakukan agar program ini benar-benar tepat sasaran dan efisien, sehingga APBN bisa lebih dihemat," pungkas Agustina.