Umat Islam di berbagai daerah memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah melalui khutbah Jumat yang sarat pesan spiritual.

Khutbah tersebut mengajak jemaah untuk meningkatkan ketakwaan, bersyukur, dan melakukan muhasabah diri secara menyeluruh.

in1

>>> Richard Lee Ajukan Penangguhan Penahanan karena Kesehatan Memburuk

Muhasabah dan Syukur di Awal Muharram

Lembaga Dakwah PWNU Jawa Tengah menyusun naskah khutbah yang ditulis oleh Sekretaris LD PCNU Kabupaten Kendal, Kiai Muhaimin.

Ia mengajak jemaah menjadikan bulan Muharram sebagai titik awal pembaruan diri secara lahir dan batin.

Kiai Muhaimin memaparkan tiga hal penting: memperbanyak syukur atas nikmat umur, introspeksi terhadap waktu yang telah berlalu, dan mengenang peristiwa hijrah Rasulullah SAW.

Ia mengutip Surah Yasin ayat 68, "Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, Kami mengembalikannya dalam penciptaan. Maka tidakkah mereka berpikir?"

Ia juga membacakan Surah An-Nahl ayat 30 dan Ali Imran ayat 110 tentang karakter umat terbaik.

Keutamaan Bulan Muharram dan Puasa Asyura

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, KH A Muzaini Aziz, menyusun teks khutbah tentang keutamaan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan suci.

Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 36 yang melarang menzalimi diri di bulan haram, serta hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang empat bulan mulia: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

KH A Muzaini Aziz menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah puasa, terutama puasa sunnah Asyura pada 10 Muharram serta puasa pada 9 dan 11 Muharram.

Ia mengutip hadis riwayat Muslim, "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram."

Puasa Asyura dijalankan sebagai bentuk syukur karena Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan tentara Firaun.