"Visi besar kami adalah tidak ingin hanya mengambil dari alam. Kami punya rencana kolaborasi jangka panjang, salah satunya kerja sama dengan YO-GYO Aquarium," urai Agung.

Pihak Jepang menyerahkan sejumlah stok kuda laut hasil penangkaran untuk mendukung visi kemandirian tersebut.

in1

BXSea akan mempelajari proses pengembangbiakan agar dapat mendistribusikan hasil breeding ke berbagai akuarium lain.

"Mereka punya stok pot-bellied seahorse hasil breeding dan mereka hibahkan ke kita.

>>> Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax, Ikuti Mekanisme Pasar

Kita belajar dari Jepang agar bisa melakukan breeding dan selanjutnya menghibahkan ke akuarium sejenis di Indonesia, bahkan mungkin ke luar negeri," tambah Agung.

Perwakilan manajemen YO-GYO Aquarium, Koji Ishigaki, memaparkan bahwa lembaga mereka fokus membiarkan anak ikan tumbuh dari fase telur sebelum dilepas ke mitra global.

"Institusi kami fokus merawat dan membiakkan anak-anak ikan dari fase telur.

Ketika dirasa cukup besar, ikan-ikan muda tersebut kami nyatakan graduate dan dihibahkan secara gratis ke akuarium di dunia yang memiliki ekosistem dan komitmen edukasi kuat, kini termasuk BXSea di Indonesia," papar Koji.

Koji meyakini daya tarik fisik biota laut muda yang menggemaskan bisa menjadi medium awal yang efektif untuk memancing rasa penasaran dan menumbuhkan kepedulian anak-anak terhadap pelestarian biota laut.

Inisiatif pelestarian lintas negara ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, menilai kolaborasi ini sebagai momentum penting bagi pemeliharaan satwa nasional.

"Kerja sama ini adalah momentum emas untuk transfer ilmu pengetahuan, teknologi, serta penerapan standar internasional dalam pemeliharaan satwa," ungkap Sarmintohadi.

Sarmintohadi menyadari bahwa dengan luas perairan Indonesia yang mencapai 70 persen dan statusnya sebagai negara megabiodiversitas, beban penjagaan lingkungan laut tidak dapat hanya dipikul oleh pemerintah pusat.