Penggunaan hidrogen hijau dinilai strategis karena tidak melepaskan emisi karbon sama sekali.

>>> Unhas dan MPR RI Jalin Kerja Sama Perkuat Nilai Kebangsaan

Zat ini juga berfungsi efektif sebagai media penyimpan daya dari pembangkit angin serta surya untuk digunakan saat produksi listrik menurun.

Kebutuhan teknologi fleksibel semakin mendesak mengingat kapasitas energi terbarukan global diproyeksikan mencapai hampir 4.600 gigawatt (GW) pada tahun 2030.

Spanyol dipilih menjadi pusat pengujian karena keaktifan negara tersebut dalam memangkas bahan bakar fosil.

Pada Juni 2026, sejumlah konsumen global Wärtsilä turut memantau jalannya pengoperasian mesin ini secara langsung.

Wärtsilä sebelumnya juga memperkuat komitmen serupa di Indonesia.

Pada November 2025, korporasi ini berkolaborasi dengan PLN Indonesia Power menguji pencampuran hidrogen pada mesin Wärtsilä 50DF di Pembangkit Pesanggaran, Bali.

Uji coba di Bali tersebut menerapkan bauran hidrogen hingga 23 persen pada beban parsial.

Hasilnya memperlihatkan kenaikan efisiensi pembakaran serta penurunan emisi karbon secara signifikan dibandingkan penggunaan gas alam murni.

Energy Business Director Australasia Wärtsilä Energy, Kari Punnonen, mengatakan perkembangan seperti uji coba hidrogen Bermeo dan uji campuran hidrogen Pesanggaran Bali menyoroti sifat teknologi mesin Wärtsilä yang siap menghadapi masa depan.

Melalui kolaborasi erat dengan pelanggan dan mitra di Indonesia, Wärtsilä secara aktif mengeksplorasi bagaimana kemampuan ini dapat mendukung transisi Indonesia menuju energi bersih.

>>> Perluasan Lahan Tebu Situbondo Tembus 598 Hektare, Lampaui Target

Wärtsilä meyakini pembangkit listrik dengan mesin fleksibel mampu menjadi solusi andal untuk mengawal stabilitas pasokan daya sekaligus menyukseskan agenda dekarbonisasi di berbagai belahan dunia.