Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.762 per dolar AS.

>>> Polisi New York Siaga Cegah Lonjakan Perdagangan Seks di Piala Dunia 2026

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga mencatat penurunan 0,41 persen ke Rp 17.826 per dolar AS, dari Rp 17.753 per dolar AS pada penutupan sebelumnya.

Faktor Eksternal dan Domestik

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M.

Rizal Taufikurrahman, menyebut fluktuasi ini dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, terutama sikap bank sentral utama yang belum melonggarkan suku bunga.

"Dari sisi eksternal, sikap bank sentral utama dunia yang masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi membuat dolar AS tetap kuat dan mendorong investor global menempatkan dana pada aset safe haven," ujar Rizal.

Di dalam negeri, pelaku pasar mengamati efektivitas kenaikan BI-Rate dalam menjaga stabilitas dan pergerakan arus modal asing ke Indonesia.

"Kondisi ini menyebabkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga," kata Rizal.

>>> Wamendagri: SE Nobar Piala Dunia Dorong Ekonomi Daerah

Untuk perdagangan Jumat (19/6/2026), pergerakan rupiah diproyeksikan masih volatil dengan rentang Rp 17.700 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Peluang penguatan terbuka jika ada aliran modal asing masuk dan sentimen global membaik, namun ruang apresiasi terbatas karena investor cenderung wait and see.

Indikator eksternal yang menjadi fokus meliputi indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan fluktuasi harga komoditas global.

Di pasar domestik, respons terhadap kebijakan Bank Indonesia dan arus dana asing di pasar SBN dan saham turut memengaruhi nilai tukar.

Rizal menegaskan intervensi moneter saja tidak cukup. "Menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi moneter.

>>> DPR Ajak UMKM Perempuan Riau Perkuat Empat Pilar Kebangsaan

Penguatan fundamental ekonomi melalui peningkatan investasi, ekspor, serta kredibilitas kebijakan fiskal menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan pasar secara berkelanjutan," ujarnya.