Bisnis wealth management di sektor perbankan menunjukkan performa yang semakin solid di tengah tekanan ekonomi global.

Lonjakan minat dari kalangan nasabah kaya atau affluent menjadi motor utama pertumbuhan layanan pengelolaan kekayaan ini.

>>> Daftar 20 Pemain Tertua di Piala Dunia 2026, Ronaldo Termasuk

Kondisi tersebut terjadi saat rupiah melemah dan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate mengalami kenaikan.

Ekonom Myrdal Gunarto menilai situasi ketidakpastian saat ini justru membuka peluang besar bagi bank yang fokus pada layanan wealth management.

Menurut Myrdal, saat perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, produk berbasis pengelolaan kekayaan menjadi alternatif yang semakin diminati.

Masyarakat kelas atas khawatir dana aset mereka akan tergerus oleh gejolak ekonomi.

Oleh karena itu, nasabah affluent meminta bantuan bank untuk menjaga dananya tetap tumbuh melalui layanan wealth management.

"Kalau kita lihat di saat adanya kehati-hatian bagi perbankan untuk menyalurkan pinjaman di tengah iklim global yang kurang kondusif, ada ini produk berbasis wealth management yang bisa ditawarkan," kata Myrdal saat dihubungi, Kamis (18/6/2026).

Pertumbuhan di Bank DBS Indonesia dan Maybank Indonesia

PT Bank DBS Indonesia menjadi salah satu bank yang memiliki spesialisasi bisnis pada wealth management.

Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom mencatat jumlah nasabah wealth managementnya pada Mei 2026 meningkat drastis sampai 73% secara tahunan.

Melfrida menyebut, dalam menjalankan bisnis wealth management, DBS Indonesia selalu berupaya memberikan analisis dan data terbaru kepada tiap nasabahnya untuk menentukan langkah terbaik guna menumbuhkan kekayaan.

"Selalu saya bilang bahwa DBS Indonesia akan mendorong wealth dengan strength kita. Strength kita tuh di mana?