>>> Bos Estée Lauder Kendal Ascher Meninggal usai Filler, Dokter Ungkap Risiko Emboli Paru

Selain itu, meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok juga membebani nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global membuat otoritas moneter lebih berhati-hati dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Meski demikian, Ibrahim meragukan efektivitas kenaikan suku bunga dalam menopang rupiah. Ia mencatat rupiah sempat melemah sesaat setelah pengumuman sebelum akhirnya bergerak stabil kembali.

“Artinya apa?

Bahwa pasar menolak Bank Indonesia menaikkan suku bunga, walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah mengatakan bahwa tujuan menaikkan suku bunga adalah untuk stabilitas mata uang rupiah,” imbuhnya.

Ibrahim mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah.

Saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,968% pada Kamis (18/6), jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang masih di kisaran 6,0%.

Pekan lalu pada (11/6) yield SBN 10 tahun sempat tembus level 7,4%.

"Menurut saya bukan stabilitas mata uang rupiah, karena kalau menaikkan suku bunga ini akan berdampak terhadap obligasi tenor 10 tahun, bukan lagi 7,4% bisa saja di 8%," katanya.

Kenaikan yield tersebut perlu dicermati karena dapat berdampak pada beban pembayaran utang pemerintah di masa mendatang.

Semakin tinggi yield obligasi, semakin besar biaya yang harus ditanggung pemerintah saat menerbitkan surat utang baru.

>>> Siapa Anak dan Istri Agustinus Bambang Jusana? Dirigendi Indonesia yang Meninggal Dunia, Benarkah Bukan Orang Biasa?

Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Potensi rupiah kembali ke level Rp 18.000 per dolar AS terbuka dalam jangka pendek.