Bank Indonesia (BI) menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi menyumbang inflasi sebesar 0,25 persen.

Meski demikian, BI optimistis inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran 1,5 hingga 3,5 persen.

>>> Persebaya Surabaya Resmi Rekrut Ramadhan Sananta untuk Liga 1

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan harga BBM nonsubsidi masih akan berfluktuasi akibat dinamika geopolitik global.

Contohnya, Pertamax dan Pertamax Turbo naik hingga Rp4.000 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex turun sekitar Rp3.000 per liter.

"Tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global.

Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi," ujar Aida dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis.

Selain BBM, Aida menyoroti potensi imported inflation akibat kenaikan harga komoditas global seperti pupuk.

Namun, ia optimistis harga pupuk dapat terjaga karena stok produksi dalam negeri masih mencukupi kebutuhan petani.

Ia juga menyebut cuaca yang memasuki musim kemarau dapat memengaruhi harga komoditas pangan.

Untuk mengendalikan inflasi pangan, BI akan berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP).

>>> Pomelo dan Cinta Laura Gaungkan Keberlanjutan Lewat Fashion Show 9 to Verse

"Dengan hal itu semua, proyeksi inflasi mulai meningkat, tetapi masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen.

Jadi paling tinggi inflasi kita di level 3,5 persen. Ini masih dalam target," tutur Aida.

Inflasi Volatile Food Melonjak

Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menyampaikan inflasi volatile food pada Mei 2026 melonjak menjadi 6,24 persen year-on-year (yoy).

Sementara inflasi tahunan secara keseluruhan tercatat 3,08 persen yoy.

Dampak inflasi volatile food terasa di sejumlah daerah. BI mencatat 25 provinsi masih dalam rentang sasaran, namun 13 provinsi lainnya sudah melewati batas.

"Seperti di Papua Barat tingkat inflasi 5,94 persen, Aceh 5,12 persen, dan Kalimantan Tengah 4,55 persen," ucap Ricky.

Komoditas pangan seperti hortikultura, cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit menjadi penyumbang andil inflasi terbesar.

BI bersama 46 kantor perwakilan bersinergi dengan pemerintah daerah melalui TPIP, TPID, dan Program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

>>> Saham Danantara Jadi Penopang IHSG di Tengah Volatilitas Pasar

"Upaya ini untuk menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah," ujar Ricky.