Ekonom Bank BTN menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% mencerminkan kehati-hatian terhadap risiko tekanan pada nilai tukar rupiah dan potensi dampak inflasi impor.

Kenaikan ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI bulanan Juni 2026. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 bps dalam sebulan terakhir.

>>> Atlet Banten Jadi Kapten Timnas Futsal U17 di Turnamen Spanyol

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengatakan fokus BI tetap pada stabilitas makroekonomi, terutama menjaga nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Menurut tim ekonom BTN, kebijakan ini juga merespons dinamika likuiditas domestik dan eksternal.

Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan devisa untuk impor energi, dan arus modal global menjadi faktor yang memengaruhi arah kebijakan moneter.

Langkah ini juga merupakan strategi antisipatif BI untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah potensi perubahan kebijakan moneter global.

Meskipun minat investor asing mulai membaik, BI tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar dan stabilitas sistem keuangan.

>>> Polres Kepulauan Seribu Libatkan Warga dalam Donor Darah HUT Bhayangkara

Tingginya minat pada lelang SRBI dengan penyerapan sekitar Rp43 triliun dan imbal hasil di atas 7% menunjukkan instrumen moneter BI masih efektif mendukung stabilitas pasar keuangan.

Dalam jangka pendek, tim ekonom BTN memperkirakan imbal hasil SBN tenor pendek masih di atas 7%, sementara yield SUN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,87–7,41%.

Myrdal memproyeksikan ruang penyesuaian BI-Rate ke depan terbatas dan bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, dan arus modal internasional.

Jika tekanan eksternal mereda dan harga minyak terkendali, BI-Rate berpotensi dipertahankan di 5,75% hingga akhir tahun.

Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitar 5,17% pada 2026 dan inflasi 3,09%. Pertumbuhan kredit diproyeksikan di bawah 9%.

>>> Hanasui Resmi Ekspor Tujuh Varian Power Serum ke Pasar Jepang

Sektor-sektor yang menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial.