Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11,51 persen secara tahunan (yoy) pada Mei 2026.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,98 persen yoy.

>>> OpenAI Berdarah-darah Tanggung Biaya Operasional Masif

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa tren positif ini diperkirakan berlanjut karena permintaan dan penawaran pembiayaan masih memadai.

"Kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51% yoy, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 9,98% yoy," ujarnya.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,95 persen yoy.

Sementara itu, kredit modal kerja naik 8,09 persen yoy, dan kredit konsumsi melambat di angka 5,89 persen yoy.

Likuiditas dan Permodalan Kuat

Daya dukung pembiayaan ke depan masih besar dengan fasilitas pinjaman yang belum ditarik nasabah mencapai Rp 2.576 triliun, setara 22,41 persen dari total plafon.

>>> Liverpool Hadapi Eksodus 12 Pemain di Era Andoni Iraola

Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di level aman 24,74 persen.

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh menguat ke level 13,47 persen yoy pada Mei 2026. BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen.

Suku bunga kredit per Mei 2026 tercatat 8,72 persen, sementara suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,26 persen.

Rasio kecukupan modal (CAR) April 2026 tinggi di angka 23,97 persen, dan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah, yaitu 2,17 persen bruto dan 0,84 persen neto.

Hasil uji ketahanan (stress test) menunjukkan perbankan Indonesia tetap kokoh menghadapi risiko global, termasuk efek konflik di Timur Tengah.

>>> Ivana Knoll Kembali Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026

BI berkomitmen memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).