Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik tetap stabil pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen tahun ini.

Proyeksi ini disampaikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah.

>>> IIT Delhi Tembus Peringkat 118 Dunia di QS World University Rankings 2027

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers daring usai Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (18/6/2026).

Bank Indonesia sebelumnya mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Kenaikan suku bunga ini merupakan yang ketiga kalinya secara berturut-turut pada paruh pertama tahun ini.

Akumulasi kenaikan total telah mencapai 100 basis poin, setelah suku bunga acuan awal tahun berada di level 4,75 persen.

Kebijakan pengetatan moneter ini diambil sebagai langkah strategis untuk memitigasi dampak ketidakpastian geopolitik global.

Langkah ini juga bertujuan meredam volatilitas pasar keuangan global yang menekan pergerakan mata uang nasional.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah sempat berada di level Rp18.031 per dolar AS pada 4 Juni.

Nilai tukar kemudian bergerak ke Rp18.126 pada 5 Juni dan menyentuh Rp18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026.

Pergerakan tersebut mengindikasikan bahwa nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 7,5 persen sejak awal tahun.

Depresiasi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja paling lemah di kawasan Asia.

Kendati demikian, situasi ekonomi nasional saat ini dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan dengan kondisi krisis finansial tahun 1998.

Pada Januari 1998, rupiah merosot hingga 70 persen sejak pertengahan Juli 1997, diikuti kejatuhan saham Jakarta sekitar 50 persen dan lonjakan utang luar negeri hingga 140 miliar dolar AS.