Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp. GK mengingatkan bahwa keberhasilan program penurunan berat badan tidak cukup diukur dari angka timbangan.

Kondisi tubuh yang lebih sehat ditentukan oleh komposisi tubuh secara keseluruhan, termasuk pentingnya menjaga massa otot.

>>> Tim Ekspedisi Temukan Bangkai Kapal Penjara Jepang di Filipina

"Jangan sampai kita diet mati-matian, tapi pas diukur ternyata massa ototnya yang turun, sedangkan lemaknya cuma turun sedikit," kata Maryam dalam Bamed Seminar Media di Jakarta, Kamis.

Selain menurunkan berat badan, tujuan pengelolaan berat badan saat ini juga membentuk komposisi tubuh yang lebih sehat. Hal itu dilakukan melalui pengurangan lemak dan menjaga massa otot.

Maryam menjelaskan obesitas pada dasarnya merupakan kondisi kelebihan lemak tubuh, bukan sekadar kelebihan berat badan.

Karena itu, evaluasi komposisi tubuh menjadi penting untuk mengetahui perubahan yang terjadi selama menjalani program diet.

Ia mencontohkan seseorang dapat terlihat kurus atau memiliki berat badan normal, tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi.

>>> Simpanan Lembaga Keuangan Mikro Turun per April 2026, Dipicu Penarikan Lebaran

Kondisi ini dikenal dengan istilah "skinny fat".

Menurut dia, keberhasilan pengelolaan berat badan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari komposisi tubuh, metabolisme, hormon, tingkat stres, hingga kualitas tidur.

Pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Ahli gizi lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan salah satu tantangan dalam proses penurunan berat badan adalah risiko kehilangan massa otot.

Padahal, massa otot berperan penting dalam menjaga metabolisme tubuh dalam jangka panjang.

>>> Kemendikdasmen: SPMB Ramah Hapus Label Sekolah Favorit

Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak hanya berfokus pada penurunan angka timbangan. Perubahan komposisi tubuh juga perlu diperhatikan agar hasil yang diperoleh dapat mendukung kesehatan secara berkelanjutan.