Sementara itu, layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan pada KA Tambahan Lempuyangan–Pasar Senen pulang pergi menghubungkan Yogyakarta, kawasan Jawa Tengah, Cirebon, hingga Jakarta.

Lintas tersebut memiliki bangkitan pelanggan dari sektor pendidikan, pariwisata, perdagangan, pekerja, keluarga, serta perjalanan masyarakat pada masa libur Lebaran.

Profil wilayah tersebut menunjukkan bahwa Kereta Ekonomi Kerakyatan memiliki relevansi kuat pada lintas dengan permintaan perjalanan tinggi.

Garut memiliki potensi pertanian, hortikultura, UMKM, dan pariwisata. Bandung Raya menjadi pusat pendidikan, jasa, perdagangan, dan ekonomi kreatif.

Purwakarta, Karawang, serta Cikarang memiliki basis industri dan pekerja yang besar, sedangkan Bekasi dan Jakarta menjadi tujuan utama perjalanan kerja, pendidikan, perdagangan, dan layanan publik.

Pada lintas Lempuyangan–Pasar Senen, potensi pelanggan berasal dari mobilitas keluarga, pelajar, pekerja, wisatawan, dan pelaku usaha kecil.

Melalui formasi baru, KA Cikuray menggunakan enam Kereta Ekonomi Kerakyatan dan satu Kereta Petani-Pedagang.

Kereta Ekonomi Kerakyatan merupakan hasil inovasi pengaturan tempat duduk oleh Balai Yasa Manggarai, dengan kapasitas menjadi 93 tempat duduk per kereta.

Dalam satu rangkaian, kapasitas Kereta Ekonomi Kerakyatan mencapai 558 tempat duduk.

Balai Yasa Manggarai berperan dalam penyiapan sarana Kereta Ekonomi Kerakyatan.

Inovasi dilakukan melalui penataan tempat duduk agar kapasitas layanan lebih optimal, perjalanan tetap tertib, dan tarif PSO dapat mendukung akses masyarakat terhadap transportasi publik yang terjangkau.

“Balai Yasa Manggarai menjadi bagian penting dari peningkatan layanan sarana penumpang.

Melalui inovasi pengaturan tempat duduk pada Kereta Ekonomi Kerakyatan, KAI dapat mengoptimalkan kapasitas layanan dengan tetap menjaga kenyamanan, keselamatan, dan keterjangkauan bagi pelanggan,” ujar Anne.

Sementara itu, Kereta Petani-Pedagang merupakan hasil inovasi sarana dari Balai Yasa Surabaya Gubeng.