Sensasi merinding yang kerap muncul di tempat sepi atau gelap sering dikaitkan dengan hal mistis.

Namun, fenomena bulu kuduk berdiri ini sepenuhnya merupakan respons biologis tubuh yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

>>> OJK: Pasar Modal Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global

Ahli neurologi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, menjelaskan bahwa kondisi ini disebut piloerection dalam istilah medis.

Piloerection terjadi akibat kontraksi otot-otot kecil di pangkal rambut yang dikendalikan otomatis oleh sistem saraf otonom.

"Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia.

Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang," jelas Yeni, Kamis, 18 Juni 2026.

Peran Amigdala dan Adrenalin

Pusat pengolahan emosi dan alarm tubuh yang disebut amigdala menjadi aktor utama di balik munculnya sensasi merinding.

Saat otak mendeteksi sesuatu yang mengejutkan, mengancam, atau menakjubkan, adrenalin akan dipompa sehingga memicu bulu kuduk berdiri.

Mekanisme ini menjelaskan mengapa manusia lebih mudah merinding saat mengalami cemas, overthinking, atau berada di bawah tekanan psikologis.

Otak manusia tidak selalu dapat membedakan antara ancaman fisik yang nyata dengan tekanan mental seperti stres atau rasa anxious.

>>> Masyarakat Pertanyakan Harga BBM Nonsubsidi Saat Harga Minyak Dunia Turun

"Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif," ujarnya.

Bukan Sinyal Makhluk Gaib

Respons merinding tidak hanya muncul karena rasa takut, melainkan bisa terjadi saat mendengarkan musik epic atau momen emosional.