Banyak orang dewasa merasa tertekan secara emosional saat berbicara dengan orangtua mereka. Pertanyaan sederhana pun bisa memicu kekesalan, rasa bersalah, atau membuat mereka merasa seperti anak kecil lagi.

Reaksi ini bukan sekadar masalah hubungan, melainkan terkait cara sistem saraf merespons ikatan yang terbentuk sejak kecil. Kedekatan historis dengan orangtua memunculkan perasaan kompleks saat berinteraksi.

>>> Aspirasi Hidup Indonesia Bagikan Dividen Rekor Rp548 Miliar

Menurut pekerja sosial klinis berlisensi Jocelyn Chamra-Barrera, LCSW, perubahan peran saat dewasa menjadi salah satu penyebab.

"Kita tidak lagi membutuhkan orangtua seperti saat anak-anak, dan itu sulit bagi kedua belah pihak," ujarnya.

Penurunan frekuensi komunikasi seiring kemandirian anak juga membuat pertanyaan biasa terasa lebih emosional.

Anak dewasa membutuhkan privasi dan batasan yang lebih kuat, dan ketegangan muncul saat batasan itu dilanggar.

Sistem Saraf Mengaktifkan Memori Masa Lalu

Pola komunikasi masa kecil terus membentuk interaksi saat dewasa. Pengalaman seperti kritik, harapan tinggi, atau pengabaian emosional menciptakan pola yang terbawa hingga kini.

Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Saba Harouni Lurie, LMFT, menjelaskan bahwa orangtua mungkin tidak bisa lepas dari cara lama yang mereka anggap sebagai bentuk kepedulian.

Namun, niat baik itu sering ditangkap anak sebagai tuntutan.

>>> Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Resmi Kuasai Saham Pengendali VISI

Interaksi tersebut secara otomatis memicu ketegangan otot, keinginan membela diri, atau tindakan menghindar.

Sistem saraf manusia sangat peka terhadap hal-hal yang familier, sehingga kembali ke dinamika keluarga mengaktifkan pola respons masa kecil demi rasa aman.

Tanda Munculnya Respons Masa Kecil

Tanda paling jelas adalah saat seseorang merasa kehilangan jati diri dewasanya di dekat orangtua. Anak bisa menjadi lebih mudah marah, tertutup, atau mencari persetujuan berlebihan.