Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengajak masyarakat untuk lebih aktif menjaga nilai-nilai agama dan moral di tengah derasnya arus globalisasi.

Menurutnya, salah satu tantangan besar saat ini adalah upaya menormalisasi perilaku LGBT yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama dan norma sosial di Indonesia.

>>> Rudiantara: Inklusi Keuangan 90 Persen, Literasi Masih Tertinggal

Perkembangan teknologi informasi memudahkan berbagai ideologi dan cara pandang luar masuk ke ruang publik, termasuk lingkungan kampus. Masyarakat diminta tidak bersikap pasif dalam menghadapi perubahan sosial tersebut.

"Yang waras harus bersuara. Jangan diam ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan nilai yang diyakini masyarakat," ujar Kiai Cholil.

Kelompok yang peduli pada moralitas publik diharapkan berani bersuara secara terbuka dengan cara yang bijak, edukatif, dan taat hukum.

Keluarga dan Lingkungan Kampus Jadi Benteng Utama

Keluarga memegang posisi strategis sebagai madrasah pertama dalam pembentukan karakter anak. Kiai Cholil mengimbau orang tua meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak untuk membendung akses informasi yang tak terbatas.

Pondasi agama, keteladanan orang tua, dan pengawasan proporsional menjadi pilar penting memperkuat ketahanan internal keluarga.

Selain itu, lingkungan sosial seperti teman sebaya dan komunitas juga turut membentuk pola pikir generasi muda.

Sektor pendidikan tinggi juga menjadi perhatian. Pengelola kos dan pelaku usaha di sekitar kampus diminta lebih peduli.

Sinergi antara tokoh agama, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk membangun karakter pemuda yang berakhlak.

Upaya preventif dan edukasi moral yang berkesinambungan dinilai lebih krusial daripada sekadar penindakan setelah masalah muncul.

>>> Presiden Prabowo Kumpulkan Pimpinan Himbara Bahas Arah Ekonomi