Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes) Yandri Susanto mengungkapkan bahwa skema ekspor langsung dari desa mampu meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 30 persen.

Hal ini disampaikan usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Jakarta, Kamis.

>>> Vila Terapung Bontang Kuala, Akomodasi Eksklusif untuk Ekspatriat IKN

Menurut Yandri, selama ini produk desa dipasarkan melalui rantai distribusi yang panjang, mulai dari tengkulak, pengepul, hingga perantara lainnya sebelum diekspor.

Akibatnya, nilai tambah yang diterima masyarakat desa menjadi lebih kecil dibandingkan jika produk dijual langsung ke pembeli di negara tujuan.

"Selama ini produk desa itu diambil sama tengkulak, sama pengepul dulu, panjang. Sehingga desa itu berkurang margin-nya," ujar dia.

Yandri menjelaskan program 5.000 Desa Ekspor yang ditargetkan rampung pada 2029 didorong agar desa dapat menjadi pelaku ekspor secara langsung melalui BUMDes atau kelembagaan ekonomi desa lainnya.

Ia mencontohkan ekspor gula aren dari Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang dikirim langsung ke Australia, Malaysia, dan Belanda tanpa perantara.

Selain itu, Desa Kertasana di Kabupaten Pandeglang telah mengekspor ikan koi emas secara langsung ke Kanada, Inggris, Prancis, dan Afrika Selatan.

Yandri juga menyebut ekspor gula aren dari Banyumas yang telah menjangkau pasar Hungaria dan Spanyol.

>>> Mensos targetkan setiap kabupaten/kota miliki gedung Sekolah Rakyat

Menurut dia, skema ini tidak hanya memperluas akses pasar bagi produk desa, tetapi juga meningkatkan pendapatan karena nilai jual yang diterima produsen menjadi lebih tinggi.

"Jadi Desa Ekspor itu tidak lagi melalui A, B, C baru diekspor, enggak, tapi desa sebagai pelaku ekspor," ungkapnya.